Labuhanbatu, Detik Kriminal.id – Kematian seorang aktivis berinisial AIS yang ditemukan tidak bernyawa di salah satu tempat hiburan malam (KTV) di wilayah Labuhanbatu menuai sorotan. Sejumlah pihak menilai terdapat banyak kejanggalan dalam peristiwa tersebut dan menduga kuat adanya unsur tindak pidana.
Ketua Solidaritas Perempuan Merdeka, Nissa Dalimunthe, yang akrab disapa Nyaik, menyampaikan ke awak Media melalui sambungan telepon WhatsApp bahwa dirinya menemukan sejumlah hal yang tidak wajar terkait kematian rekan sesama aktivis tersebut. Menurut Nissa, informasi awal yang beredar menyebutkan AIS meninggal dunia akibat overdosis (OD) atau serangan jantung. Namun, ia mengaku meragukan informasi tersebut karena merasa cukup dekat dengan korban.

“Saat saya di Medan, saya mendapat kabar AIS meninggal di room KTV di Labuhan batu, saya langsung mencari informasi dari rekan-rekan Alm AIS, Isunya disebut overdosis, tapi saya tidak percaya. Dari kondisi fisik korban, menurut saya tidak memungkinkan itu OD maupun dugaan jantung seperti yang diungkap pihak kepolisian. Bahkan setelah saya melakukan advokasi, dompet AIS sampai hari ini tidak ditemukan. Dugaan saya ini ada indikasi pembunuhan disengaja,” ujar Nissa.
Ia juga menyoroti kronologi keberangkatan korban pada malam kejadian. Menurut keterangan yang diperolehnya, AIS berangkat dari sebuah warung kopi di Simpang 6 bersama rekannya berinisial RR sekitar pukul 00.30 WIB menuju lokasi KTV tersebut. Saat tiba, disebutkan sudah ada sekitar 15 orang lainnya di tempat itu.
Sekitar pukul 08.00 WIB, beredar kabar bahwa AIS telah meninggal dunia. Namun, Nissa menilai penanganan perkara ini terkesan tertutup. “Ini seperti teka-teki. AIS berangkat bersama RR sekitar pukul 00.30 WIB dan di lokasi sudah ada sekitar 15 orang. Pertanyaannya, ke mana 16 orang ini? Hingga kini tidak ada police line maupun pers rilis resmi dari Polres Labuhanbatu. Seakan-akan tidak terjadi apa-apa di Labuhanbatu. Pihak KTV, kepolisian, bahkan beberapa aktivis disebut sudah melihat rekaman CCTV, namun mereka bungkam,” tegasnya.
Nissa menambahkan, seharusnya dalam kasus kematian yang dinilai tidak wajar, aparat penegak hukum melakukan prosedur sesuai ketentuan, termasuk autopsi untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah dan transparan. Ia menyatakan bersama sejumlah aktivis lainnya akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas.
“Kami akan terus memperjuangkan keadilan dan mengungkap motif kematian AIS. Penemuan korban dalam kondisi sudah menjadi mayat di KTV ini harus diusut tuntas. Jika memang ada prosedur yang dilanggar, kami akan melaporkan beberapa oknum kepolisian ke Polda Sumatera Utara maupun Mabes Polri,” tutup Nissa.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian setempat belum memberikan keterangan resmi terkait kronologi lengkap maupun hasil penyelidikan atas kematian AIS. Kasus ini pun menjadi perhatian publik dan mendesak agar dilakukan investigasi secara profesional, transparan, serta akuntabel.
Masyarakat Labuhanbatu menanti jawaban atas kasus ini dan berharap agar pihak kepolisian dapat mengungkap kebenaran dan memberikan keadilan bagi keluarga korban, Kamis 19 februari 2026.
( Red/ Tim)








