PEMATANGSIANTAR, Detik kriminal – 8 MEI 2026 – Tindakan intimidasi yang dilakukan oleh oknum yang mengaku sebagai aparat intelijen di Sekretariat GMNI Pematangsiantar menuai kecaman keras. Kehadiran oknum (Intel ) tersebut untuk melakukan “wawancara” terkait isu “Pesta Babi” dinilai sebagai bentuk teror psikologis yang mencederai independensi organisasi mahasiswa.
Menanggapi hal tersebut, Bung Nicolas Gurning Ketua GMNI Pematangsiantar menyampaikan kritik tajam terhadap metode-metode pengawasan yang dianggap represif dan tidak profesional. Menurutnya, sekretariat organisasi adalah ruang privat untuk diskursus intelektual, bukan tempat bagi aparat untuk melakukan intimidasi terselubung terhadap kader.

Sekretariat GMNI adalah rumah bagi kaum marhaenis untuk berpikir dan berjuang, bukan ruang interogasi. Jika ada oknum aparat datang tanpa surat tugas resmi dan melakukan pendataan tendensius, maka ini adalah bentuk ancaman terhadap kebebasan berorganisasi,” tegasnya.
Ia juga menilai bahwa narasi “Pesta Babi” yang digunakan sebagai dalih wawancara merupakan upaya stigmatisasi terhadap kegiatan kebudayaan yang dijalankan oleh pemuda. Situasi ini dipandang tidak berdiri sendiri, melainkan diduga sebagai bagian dari upaya sistematis untuk memantau dan membatasi gerak kritis mahasiswa di Kota Pematangsiantar.
“Kami menduga ada upaya untuk menciptakan rasa takut di kalangan kader agar tidak lagi kritis terhadap isu-isu sosial. Intelijen seharusnya bekerja untuk keamanan negara, bukan mendatangi sekretariat mahasiswa untuk melakukan pendataan yang tidak relevan,
DPC GMNI Pematangsiantar menambahkan bahwa jika tindakan semacam ini terus dibiarkan, maka demokrasi di Kota Pematangsiantar sedang berada dalam ancaman serius. Pihak kepolisian dan pimpinan aparat keamanan setempat diminta untuk memberikan peringatan keras kepada anggotanya agar bekerja sesuai koridor hukum dan menghormati hak asasi manusia.
Aparat harus diberi peringatan agar tidak menggunakan pengaruh kekuasaannya untuk masuk ke ranah privat organisasi. Pemuda dan mahasiswa harus tetap menjadi kontrol sosial yang bebas dari bayang-bayang teror intelijen,” jelasnya.
Sebagai organisasi yang memegang teguh ajaran Bung Karno, GMNI Pematangsiantar mengajak seluruh elemen aktivis untuk tetap solid dan tidak gentar menghadapi segala bentuk upaya pembungkaman.
“Mahasiswa harus tetap berani. Jangan sampai marwah gerakan kita runtuh hanya karena intimidasi-intimidasi kecil yang mencoba mengerdilkan nyali perjuangan.













