Jakarta – Penunjukan Yusuf Didi Setiarto sebagai Wakil Direktur Utama PLN melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun 2026 menegaskan penguatan arah transformasi perusahaan yang bertumpu pada tata kelola yang solid, kepemimpinan organisasi yang adaptif, serta keberlanjutan agenda transformasi berbasis manusia dan nilai sosial. Pembentukan posisi Wakil Direktur Utama juga dipandang sebagai bagian dari penguatan struktur kepemimpinan untuk menjaga kesinambungan agenda transformasi perusahaan di tengah dinamika sektor ketenagalistrikan.
Kepercayaan tersebut lahir dari rekam jejak panjang Yusuf Didi yang konsisten berada di pusat penguatan kelembagaan PLN, khususnya pada aspek hukum, human capital, manajemen risiko, dan transformasi organisasi.

Yusuf Didi Setiarto merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia dengan pengalaman lintas sektor di SKK Migas, Kementerian ESDM, Kantor Staf Presiden, hingga Pertamina. Pengalaman tersebut memperkuat kapasitasnya dalam menghubungkan kebijakan publik dengan implementasi korporasi di sektor energi nasional. Ia bergabung di jajaran Direksi PLN sejak 2021 dan kemudian memimpin fungsi pengelolaan sumber daya manusia serta penguatan kelembagaan perusahaan.
*Capaian dan Kontribusi di PLN*
Selama menjabat di jajaran Direksi PLN, Yusuf Didi berperan dalam penguatan fondasi transformasi perusahaan melalui berbagai agenda strategis, antara lain:
1.Penguatan Tata Kelola dan Kepastian Hukum Korporasi
Memperkuat sistem legal, kepatuhan, dan mitigasi risiko sebagai fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan transformasi PLN sekaligus memperkuat prinsip akuntabilitas dan tata kelola perusahaan yang sehat.
2.Reformasi Human Capital dan Pengembangan Talenta
Mendorong modernisasi sistem SDM berbasis meritokrasi melalui penguatan Merit System, pengembangan talent pool, serta pembentukan jalur karier yang lebih terbuka dan terukur.
Dalam implementasinya, pengisian posisi strategis dan promosi jabatan diarahkan semakin berbasis kompetensi, rekam kinerja, capaian individu, serta kesiapan kepemimpinan. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang kompetitif, profesional, dan berorientasi pada prestasi.
Transformasi SDM juga diarahkan untuk mempercepat regenerasi kepemimpinan di seluruh level organisasi guna memastikan keberlanjutan talenta dalam menjawab tantangan industri ketenagalistrikan dan agenda transisi energi.
3.Konsistensi Agenda Transformasi Organisasi
Mengawal kesinambungan transformasi PLN agar tidak berhenti pada perubahan struktural, tetapi menjadi sistem kerja yang berkelanjutan dan melekat pada budaya perusahaan.
Dalam implementasinya, pengisian posisi strategis dan promosi jabatan diarahkan semakin berbasis kompetensi, rekam kinerja, capaian individu, serta kesiapan kepemimpinan. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya organisasi yang kompetitif, profesional, dan berorientasi pada prestasi.
Transformasi SDM juga diarahkan untuk mempercepat regenerasi kepemimpinan di seluruh level organisasi guna memastikan keberlanjutan talenta dalam menjawab tantangan industri ketenagalistrikan dan agenda transisi energi.
4.Penguatan Program Sosial dan Kemanusiaan
Mendorong pelaksanaan program sosial perusahaan yang memperkuat kehadiran PLN di tengah masyarakat, mulai dari dukungan pemulihan pascabencana melalui gerakan relawan hingga perluasan akses listrik bagi masyarakat prasejahtera melalui program Light Up The Dream. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan transformasi PLN yang tidak hanya berorientasi pada kinerja bisnis, tetapi juga memberikan dampak sosial yang nyata.
Kiprah Yusuf Didi Setiarto di PLN menunjukkan peran strategis dalam membangun perusahaan tidak hanya sebagai entitas energi, tetapi juga sebagai institusi yang menempatkan tata kelola, kualitas SDM, dan tanggung jawab sosial sebagai satu kesatuan agenda transformasi.
Kombinasi antara penguatan tata kelola, reformasi SDM berbasis merit, pengembangan talenta internal, konsolidasi organisasi, serta penguatan program sosial berskala nasional menjadikan Yusuf Didi sebagai salah satu figur kunci dalam menjaga keberlanjutan transformasi PLN.
Penugasan sebagai Wakil Direktur Utama menjadi pengakuan atas konsistensi peran tersebut, sekaligus penegasan bahwa kepemimpinan ke depan membutuhkan keseimbangan antara ketegasan institusional, pengembangan talenta berbasis prestasi, ketahanan organisasi, dan kepekaan sosial terhadap masyarakat luas.













