banner 728x250
Berita  

AI Makin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Cara Berpikir

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, Detik kriminal — Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berkembang semakin pesat dan mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari dunia kerja, pendidikan, hingga pencarian informasi, teknologi AI menawarkan berbagai kemudahan yang sebelumnya sulit dibayangkan.

Namun, di balik kemudahan tersebut muncul persoalan yang tidak kalah penting: jangan sampai kecanggihan teknologi justru membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir, menilai, dan mengambil keputusan secara mandiri.

banner 325x300

Hal itu menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi Think Talk bertema “AI, Manusia, dan Batas-Batas Ketergantungan Teknologi”, dengan Hanter Siregar, S.H. sebagai narasumber dan Kristina Purba, S.Pd. sebagai moderator.

Hanter mengatakan, persoalan di era AI saat ini bukan lagi sekadar bagaimana seseorang memperoleh informasi dengan cepat. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan informasi tersebut benar, memiliki sumber yang jelas, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, kecepatan memperoleh informasi harus diimbangi dengan kemampuan melakukan verifikasi.

«“Stop, share, cek dulu. Periksa sumbernya, kapan dibuat, sumber aslinya, serta data dan bukti yang mendukung,” ujar Hanter.»

Ia menegaskan, AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu untuk memperkuat kemampuan manusia, termasuk sebagai sarana untuk menguji dan memperkaya pemikiran.

Namun, AI tidak semestinya menggantikan proses manusia dalam mempertimbangkan informasi dan menentukan keputusan.

Hanter memberikan ilustrasi melalui penggunaan aplikasi navigasi seperti Google Maps.

Seseorang yang sudah mengenal suatu jalan berdasarkan pengalaman dapat saja menemukan petunjuk yang berbeda dengan aplikasi. Namun, karena terlalu percaya pada teknologi, orang tersebut bisa saja langsung mengikuti petunjuk digital tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kondisi nyata dan pengetahuannya sendiri.

«“Jangan sampai AI yang awalnya kita gunakan sebagai alat bantu justru secara perlahan mengambil alih kemampuan kita untuk menilai,” katanya.»

AI menjawab cepat, manusia tetap harus berpikir

Diskusi tersebut juga diwarnai pandangan dari sejumlah peserta, di antaranya Alboin Samosir, Hendra Sinurat, dan Friska Liska Sihombing.

Mereka turut membahas perkembangan AI, perubahan perilaku manusia akibat teknologi, serta pentingnya kemampuan menyaring dan memverifikasi informasi di tengah derasnya arus informasi digital.

Pembahasan kemudian berkembang pada persoalan identitas manusia yang dikaitkan dengan film Mickey 17.

Film tersebut menjadi salah satu bahan refleksi mengenai kemungkinan manusia diciptakan kembali berdasarkan data dan ingatan, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya membentuk identitas seseorang.

Hanter menilai manusia tidak hanya dibentuk oleh data.

Pengalaman, hubungan dengan orang lain, emosi, konteks kehidupan, proses belajar, serta kebijaksanaan yang diperoleh sepanjang perjalanan hidup turut membentuk manusia sebagai pribadi.

Karena itu, perkembangan AI tidak cukup hanya dilihat dari seberapa canggih teknologi tersebut mampu bekerja.

Yang juga perlu diperhatikan adalah bagaimana manusia menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis.

Teknologi boleh semakin pintar, tetapi manusia tetap harus menjadi pihak yang mampu menguji informasi, mempertanyakan jawaban, memahami konteks, dan menentukan keputusan.

Pada akhirnya, tantangan AI bukan hanya tentang apakah teknologi mampu berpikir seperti manusia.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah manusia seperti apa yang akan terbentuk ketika kehidupan sehari-hari semakin dekat dan bergantung pada kecerdasan buatan?

Hanter menutup pembahasan dengan pesan yang menjadi refleksi penting di tengah perkembangan AI yang semakin cepat.

«“AI seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikannya. Tantangan terbesar AI mungkin bukan apakah teknologi dapat berpikir seperti manusia, melainkan apakah manusia masih bersedia berpikir sebagai manusia.”(tim)

Facebook Comments Box
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *