PEMATANGSIANTAR — Sebuah rilis pers tidak otomatis menjadi berita. Di balik informasi yang disampaikan, terdapat nilai berita, fakta, konteks, serta cara penyajian yang menentukan apakah sebuah informasi layak mendapat perhatian media dan publik.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam diskusi jurnalistik bertajuk “Teknik Membuat Berita” yang digelar Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi di Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Sabtu (10/10/2026) pukul 14.00 WIB.
Kegiatan tersebut menghadirkan Abdi Tumanggor, S.H., Editorial Staff Tribun Medan, sebagai pemantik diskusi. Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan organisasi kemahasiswaan turut hadir, di antaranya PERMAHI Pematangsiantar-Simalungun, GMKI Pematangsiantar-Simalungun, Politeknik Bisnis Indonesia (PBI), serta STIE Sultan Agung.
Diskusi menjadi ruang belajar bersama untuk membangun pemahaman mahasiswa mengenai dasar-dasar jurnalistik, teknik penulisan berita, kemampuan berpikir kritis, serta tanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Dalam pemaparannya, Abdi Tumanggor menjelaskan berbagai aspek penting dalam proses jurnalistik, mulai dari nilai berita, teknik membuat rilis pers, struktur berita, pola kalimat SPOK, hingga unsur 5W+1H atau what, who, when, where, why, dan how.
Ia juga menekankan pentingnya verifikasi fakta, aktualitas informasi, kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik, serta kecermatan dalam menggunakan informasi yang bersumber dari media sosial.
Menurutnya, rilis pers harus mampu memberikan informasi yang jelas dan memiliki nilai berita. Media tidak sekadar membutuhkan tulisan yang panjang atau penuh pernyataan, tetapi membutuhkan fakta dan informasi yang relevan bagi kepentingan publik.
Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa kemampuan jurnalistik tidak berhenti pada kemampuan merangkai kalimat. Seorang penulis harus mampu memilah fakta, menentukan sudut pandang pemberitaan, menyusun informasi secara sistematis, serta memastikan setiap informasi yang disampaikan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketua Presidium PMKRI Cabang Pematangsiantar, Fransisco Mezgion Hutauruk, mengatakan diskusi jurnalistik tersebut penting untuk memperkuat tradisi intelektual dan budaya berpikir kritis di kalangan mahasiswa.
Menurutnya, mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk menguji kebenaran informasi sebelum menyebarkannya kepada orang lain.
“Mahasiswa harus berani berdiskusi, terbuka terhadap perbedaan pendapat, serta mampu menilai informasi secara objektif,” ujarnya.
Ia menilai, di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan mahasiswa dalam memeriksa fakta dan memahami konteks menjadi semakin penting. Literasi jurnalistik, kata dia, dapat menjadi salah satu bekal untuk mencegah penyebaran informasi yang keliru, sekaligus mendorong mahasiswa lebih kritis terhadap berbagai persoalan sosial.
Sementara itu, Jonatan F.T. Situmorang, Presidium Hubungan Perguruan Tinggi PMKRI Cabang Pematangsiantar sekaligus moderator kegiatan, menyampaikan bahwa diskusi tersebut sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi mahasiswa lintas kampus dan organisasi kemahasiswaan.
Menurutnya, pertukaran gagasan antarmahasiswa penting untuk memperluas wawasan sekaligus membangun budaya diskusi yang sehat dan produktif.
“Kami berharap mahasiswa semakin terampil menulis berita berdasarkan fakta, memahami unsur 5W+1H, dan bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi kepada publik,” ungkapnya.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh dalam diskusi tidak berhenti pada tataran teori, tetapi dapat diterapkan dalam praktik, khususnya dalam menyusun rilis pers, menulis berita, melakukan verifikasi informasi, serta menyampaikan gagasan secara lebih sistematis.
PMKRI Cabang Pematangsiantar Santo Fransiskus dari Assisi juga berkomitmen untuk terus membuka ruang diskusi dan kolaborasi bersama perguruan tinggi maupun organisasi kemahasiswaan. Kegiatan lanjutan diharapkan dapat diarahkan pada praktik langsung penulisan berita, penyusunan rilis pers, hingga penguatan literasi jurnalistik.
Melalui kegiatan tersebut, PMKRI Pematangsiantar mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga kecakapan membaca realitas, menguji informasi, menyusun fakta, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
Sebab, jurnalistik pada akhirnya bukan sekadar persoalan bagaimana sebuah berita ditulis. Lebih jauh, jurnalistik berbicara tentang bagaimana fakta diperiksa, informasi ditempatkan dalam konteks, dan kebenaran disampaikan kepada publik secara bertanggung jawab.(Tim-red)


















