Metro Utara, Detik kriminal – Sekelompok mahasiswa lintas program studi dari Universitas Malahayati Bandar Lampung merancang sebuah program pemberdayaan masyarakat bertajuk SIGAP-DM Banjarsari, singkatan dari Sosialisasi dan Gerakan Aksi Pencegahan Diabetes Melitus. Program ini digagas sebagai bagian dari Kuliah Kerja Lapangan Pengabdian danPemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) yang dilaksanakan di RW 06, Kelurahan Banjarsari,Kecamatan Metro Utara, Kota Metro, mulai 13 Juli hingga 21 Agustus 2026.
Program tersebut disusun oleh dua puluh mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 29, berasal dari berbagai fakultas seperti Kedokteran, Keperawatan, Farmasi, Kesehatan Masyarakat, Psikologi, Akuntansi, Manajemen, Teknik Sipil, Teknik Industri, TeknikLingkungan, hingga Hukum. Kegiatan ini berada di bawah bimbingan Dosen PembimbingLapangan Vito Zhafran Octonariz, M.S.Farm, dan direncanakan menghabiskan total 144 jam kerja efektif mahasiswa.
Latar belakang program ini bermula dari tingginya beban penyakit diabetes melitus di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia Kementerian Kesehatan RI tahun 2023, prevalensi diabetes pada penduduk berusia di atas 15 tahun meningkat dari 10,9 persen pada Riskesdas 2018 menjadi 11,7 persen, dengan estimasi lebih dari 20 juta jiwa penyandang di seluruh negeri. Angka tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat kelima dunia untuk jumlah kasus diabetes terbanyak. Ironisnya, hanya sekitar satu dari empat hingga lima penyandang diabetes yang menyadari kondisinya dan mendapatpenanganan medis, sehingga jumlah kasus sesungguhnya di masyarakat diperkirakan jauh lebih besar daripada data yang tercatat.
Kondisi serupa turut ditemukan di RW 06 Kelurahan Banjarsari, wilayah permukiman padat penduduk dengan sekitar 310 kepala keluarga yang tersebar di enam Rukun Tetangga. Meski kegiatan Posyandu, Posbindu, dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) telah berjalan rutindi sana, hasil skrining seperti data gula darah warga selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai dasar edukasi yang tepat sasaran. Wilayah tersebut juga belum memiliki media edukasi khusus yang membahas pencegahan diabetes secara sistematis dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Untuk menjawab persoalan itu, tim mahasiswa menawarkan dua bentuk solusi utama. Pertama, penyusunan majalah edukasi kesehatan yang mengangkat materi faktor risiko, gejala dini, pola makan rendah gula, hingga pentingnya pemeriksaan gula darah berkala.
Majalah dicetak menggunakan bahan art paper dan art carton berlaminasi, lalu disebarluaskan ke seluruh RT di RW 06 melalui penyuluhan langsung. Kedua, pendampingan bagi kader posyandu agar mampu menginterpretasi hasil CKG dan Posbindu untuk mengidentifikasi warga berisiko, sekaligus melatih mereka menggunakan format pencatatan digital sederhana berbasis Google Form dan Spreadsheet. Sebagai pelengkap, tim juga menyiapkan kode QR yang tertaut ke versi digital majalah agar materi tetap dapat diakses meski masa KKL-PPM telah berakhir.
Pelaksanaan program mengusung pendekatan Participatory Rural Appraisal dan pemberdayaan masyarakat, dimulai dari tahap sosialisasi dan diskusi kelompok terarah bersama warga dan perangkat kelurahan, dilanjutkan dengan pelatihan bagi kader, penerapan majalah dan sistem pencatatan, pendampingan penyuluhan di tiap RT, hingga evaluasi menggunakan metode pretest-posttest.
Tim menargetkan minimal 80 persen peserta penyuluhan mengalami peningkatan pengetahuan serta 80 persen kader mampu mengidentifikasi kelompok berisiko dari data skrining yang ada.
Program ini diharapkan dapat mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya di bidang kesehatan dan kemitraan lintas sektor, sekaligus memastikan upaya pencegahan diabetes melitus di RW 06 Kelurahan Banjarsari dapat terus berjalan secara mandiri oleh kader posyandu setempat setelah kegiatan mahasiswa berakhir.















