banner 728x250

Spanduk “Kapolrestabes Stop p Pencitraan” Gegerkan Medan, Pemuda Demokrasi Indonesia: Satu Diturunkan, 100 Akan Kami Naikkan

banner 120x600
banner 468x60

MEDAN, Detikkriminal.id — Kota Medan digegerkan dengan kemunculan sejumlah spanduk bernada kritik terhadap kinerja Kapolrestabes Medan yang terpasang di sejumlah titik strategis, Rabu (29/10/2026).

Sedikitnya 10 spanduk berwarna hitam-merah dengan tulisan “KAPOLRESTABES STOP PENCITRAAN” terpantau terpasang di sejumlah lokasi vital Kota Medan. Di antaranya depan Kantor Gubernur Sumatera Utara, depan Polda Sumut, Jembatan Layang Jalan Gatot Subroto, Jalan Kapten Muslim, Simpang Jalan Diponegoro, sekitar Kantor Wali Kota Medan, Jalan Sisingamangaraja, Taman Cadika, Jalan Sei Batang Hari hingga kawasan Ringroad.

banner 325x300

Spanduk tersebut dipasang oleh Dewan Pimpinan Daerah Pemuda Demokrasi Indonesia (DPD PDI) Provinsi Sumatera Utara sebagai bentuk penyampaian aspirasi dan kritik terhadap kinerja kepolisian di Kota Medan.

Pesan yang terpampang cukup keras. Selain tulisan “KAPOLRESTABES STOP PENCITRAAN”, terdapat pula kalimat sindiran, “Cita-cita mau jadi selebriti, namun apa daya harus jadi polisi, prestasi kok jarang, di-upload”, serta pesan “Suara Rakyat Bukan Target!”. Dalam sejumlah spanduk juga terlihat gambar Kapolrestabes Medan yang diberi tanda silang merah.

Ketua DPD Pemuda Demokrasi Indonesia Sumut, Paulus Peringatan Gulo, S.H., M.H., mengatakan pemasangan spanduk tersebut merupakan bentuk kritik terbuka terhadap apa yang mereka nilai sebagai kecenderungan pimpinan kepolisian lebih menonjolkan aktivitas di media sosial dibandingkan menunjukkan hasil kerja yang dirasakan langsung masyarakat.

“Jabatan Kapolrestabes Medan adalah jabatan prestisius dan merupakan tempat masyarakat mengadu. Kami mempertanyakan prestasi yang benar-benar dirasakan masyarakat. Jangan sampai masyarakat justru melihat bahwa aktivitas di media sosial lebih menonjol dibandingkan kerja nyata di lapangan,” tegas Paulus.

Menurut Paulus, kritik tersebut tidak ditujukan untuk melemahkan institusi Polri. Sebaliknya, pihaknya ingin mendorong agar institusi kepolisian semakin dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

“Kami tidak sedang menyerang institusi Polri. Kami justru ingin marwah Polri tetap terjaga. Kami cinta Polri dan mendukung Polri Presisi. Tetapi pimpinan kepolisian harus lebih mengutamakan kerja nyata, pelayanan dan penyelesaian persoalan masyarakat,” ujarnya.

Paulus juga menyoroti kemungkinan adanya upaya penurunan terhadap spanduk yang telah dipasang. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan berhenti menyampaikan aspirasi apabila spanduk tersebut dicopot.

“Kami ingatkan, jangan coba-coba membungkam suara rakyat. Hari ini 10 spanduk kami pasang. Kalau satu diturunkan, 100 spanduk lagi akan kami naikkan. Kalau 100 diturunkan, 1.000 akan kami sebar di seluruh Sumatera Utara,” kata Paulus.

Ia menegaskan, aksi tersebut merupakan bentuk tekanan moral agar jajaran kepolisian, khususnya pimpinan di tingkat Polrestabes Medan, lebih fokus menunjukkan kinerja yang konkret dan terukur.

“Stop pencitraan, mulai kerja nyata untuk masyarakat. Kritik ini jangan dianggap sebagai permusuhan. Jadikan ini evaluasi agar pelayanan kepolisian semakin baik dan kepercayaan masyarakat semakin kuat,” pungkasnya.

Hingga berita ini ditayangkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Kapolrestabes Medan terkait kritik dan pemasangan spanduk tersebut.

(Tim-red)

Facebook Comments Box
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *