PANINGGAHAN, Detik kriminal – Calon Wali Nagari Paninggahan, Jufrizal, mengusung visi besar “Paninggahan Bangkit, Pulih Bersama, Maju Sejahtera” sebagai komitmen membangun kembali Nagari Paninggahan yang tangguh, mandiri, maju, dan berkelanjutan setelah menghadapi bencana Galodo yang melanda wilayah tersebut.
Mengawali penyampaiannya dengan salam, ucapan syukur kepada Allah SWT, serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, Jufrizal mengajak seluruh masyarakat menjadikan musibah sebagai momentum untuk bangkit bersama.

Ia mengangkat semangat “Panawa Luko Pasca Bancano, Mambangkik Tuah di Tanah Pusako”, yang berarti memulihkan luka akibat bencana sekaligus mengembalikan kejayaan Nagari Paninggahan sebagai tanah pusaka yang penuh berkah.
Menurut Jufrizal, jabatan Wali Nagari bukan sekadar posisi pemerintahan, melainkan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada masyarakat maupun kepada Allah SWT.
“Nagari Paninggahan adalah titipan untuk anak cucu kita. Tugas seorang pemimpin bukan hanya membangun hari ini, tetapi juga menjaga masa depan nagari,” ujarnya.
Ia menilai kondisi Paninggahan saat ini berada di sebuah persimpangan setelah bencana. Mengutip pepatah Minangkabau, “Sakali aia gadang, sakali tapian barubah,” Jufrizal mengatakan bahwa perubahan besar akibat bencana menuntut lahirnya cara berpikir dan strategi pembangunan yang baru.
Karena itu, menurutnya, Nagari Paninggahan membutuhkan kepemimpinan yang matang, tenang, serta memiliki pondasi agama yang kuat agar mampu mengembalikan Paninggahan sebagai Nagari Batuah, yakni nagari yang diberkahi dan membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Dalam kesempatan tersebut, Jufrizal juga memperkenalkan rekam jejak pengabdiannya. Ia menegaskan dirinya bukan sosok baru dalam pemerintahan nagari. Selama lebih dari 12 tahun, ia telah mengabdi di berbagai posisi, mulai dari Sekretaris BMN/BPN selama dua periode (2006–2018) hingga kini menjabat sebagai Sekretaris Nagari.
Pengalaman tersebut, menurutnya, membuat dirinya memahami sistem administrasi pemerintahan, dinamika pelayanan masyarakat, serta berbagai persoalan yang dihadapi warga sehari-hari.
Selain pengalaman birokrasi, Jufrizal menegaskan bahwa kepemimpinannya akan berlandaskan nilai agama dan adat Minangkabau. Pengabdiannya sebagai Kepala MAS.TI Paninggahan dan keterlibatannya di Yayasan Bustanul Abrar menjadi bagian dari komitmennya menjadikan agama dan adat sebagai kompas utama dalam menjalankan pemerintahan.
Menurutnya, pembangunan fisik tidak akan memiliki makna tanpa disertai pembangunan moral dan spiritual masyarakat.
Dalam konsep kepemimpinannya, Jufrizal mengusung pendekatan modern tanpa meninggalkan akar budaya. Mengutip pepatah Minang, “Guntiang baru, saik rang kini; ragam nan indak katinggalan, nan tapakai kamari pai,” ia menegaskan bahwa inovasi harus berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai adat yang telah diwariskan para pendahulu.
Ia juga telah menyiapkan cetak biru pembangunan delapan tahun ke depan yang berfokus pada pemulihan sektor pertanian, menghidupkan kembali sawah-sawah yang terdampak bencana, menggerakkan roda perekonomian nagari, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan yang berkelanjutan.
Bagi Jufrizal, kekuatan utama Paninggahan tetap berada pada sektor pertanian, khususnya sawah dan peternakan sebagai sumber kehidupan masyarakat.
Di akhir penyampaiannya, Jufrizal mengajak seluruh masyarakat untuk bergandengan tangan membangun Paninggahan dengan semangat kebersamaan melalui filosofi Minangkabau “Bajalan samo mairiang, baiyua samo maisi,” yang bermakna berjalan bersama, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing.
Ia berharap seluruh elemen masyarakat dapat bersatu mewujudkan cita-cita bersama menuju Nagari Paninggahan yang bangkit, mandiri, maju, sejahtera, dan berkelanjutan.
Slogan yang diusungnya adalah “Paninggahan Bangkit, Pulih Bersama, Maju Sejahtera”, sebagai simbol tekad untuk mengakhiri duka akibat bencana dan mengembalikan kejayaan Nagari Paninggahan di tanah pusaka.
(Jasman)













