banner 728x250
Berita  

Asta Sembiring Hadiri POF PP PMKRI: “Indonesia Tak Kekurangan Orang Pintar, tetapi Membutuhkan Pemimpin Berintegritas”

banner 120x600
banner 468x60

JAKARTA, Detik kriminal.id – 16 Oktober 2026 – Kecerdasan intelektual tidak lagi cukup menjadi ukuran utama kualitas seorang pemimpin di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, ketidakpastian ekonomi, dan dinamika politik yang semakin kompleks. Kepemimpinan masa kini membutuhkan integritas, kemampuan beradaptasi, keberanian mengambil keputusan, serta komitmen untuk menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting yang disampaikan Ir. Asta Ivo Bonny Sembiring, S.T., Project Director Perum Perumnas Samesta Pasadana Bandung, dalam kegiatan Pekan Orientasi Fungsionaris (POF) Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) Santo Thomas Aquinas Periode 2026–2028, Jumat (16/10/2026).

banner 325x300

Dalam sesi bertajuk “Navigating Adaptive Leadership Amid Waves of Disruption” atau “Navigasi Kepemimpinan Adaptif di Tengah Gelombang Disrupsi”, Asta mengajak para fungsionaris merefleksikan kembali hakikat kepemimpinan sebagai tanggung jawab moral, bukan sekadar kemampuan menjalankan kewenangan struktural.

“Yang dicari saat ini bukan orang yang hanya pintar saja, tetapi orang yang mempunyai integritas,” tegas Asta.

Menurutnya, kemampuan intelektual, keterampilan komunikasi, dan kecakapan manajerial memang penting dalam mengelola organisasi. Namun, kemampuan tersebut harus ditopang oleh karakter yang kuat agar tidak berubah menjadi instrumen untuk memenuhi kepentingan pribadi. Dalam kerangka tersebut, integritas menjadi ukuran yang membedakan pemimpin yang hanya mampu membangun citra dengan pemimpin yang benar-benar dapat dipercaya dalam menjalankan tanggung jawab.

*Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan, tetapi Tanggung Jawab Moral*

Pembahasan mengenai integritas menjadi relevan ketika jabatan kerap dipandang sebagai simbol keberhasilan seseorang dalam organisasi. Padahal, legitimasi struktural tidak selalu berjalan beriringan dengan kualitas kepemimpinan. Seorang pemimpin dapat memiliki kedudukan yang tinggi, penguasaan pengetahuan yang luas, dan jaringan kelembagaan yang kuat. Namun, tanpa konsistensi moral, seluruh kelebihan tersebut tidak otomatis menghasilkan kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Dalam konteks ini, Asta menekankan pentingnya mengembangkan kepemimpinan yang mampu menyatukan pengetahuan, tindakan, dan nilai-nilai yang diyakini. Pesan utama yang dapat ditarik dari pemaparannya ialah bahwa kualitas pemimpin harus diukur melalui tanggung jawab yang dijalankan, bukan semata-mata kewenangan yang dimiliki. Kepemimpinan yang berintegritas menuntut keberanian mempertahankan prinsip, termasuk ketika keputusan yang benar tidak selalu menjadi keputusan yang paling populer.

Bagi organisasi kader seperti PMKRI, pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter harus berjalan beriringan dengan pengembangan kecerdasan intelektual. Kaderisasi yang hanya menghasilkan individu yang pandai berargumentasi tetapi tidak memiliki keberanian moral berisiko kehilangan tujuan pembinaannya.

*PMKRI Harus Melampaui Peran Mitra Kritis dan Strategis*

Dalam kesempatan yang sama, Asta memberikan perhatian khusus terhadap tanggung jawab PMKRI sebagai organisasi kader yang memiliki identitas dan nilai perjuangan tersendiri. Ia mengingatkan bahwa keterlibatan organisasi dalam mengawasi kebijakan publik maupun membangun hubungan strategis dengan pemerintah bukanlah satu-satunya tujuan keberadaan PMKRI.

“Tugas organisasi seperti kita ini bukan hanya menjadi mitra kritis dan mitra strategis. Tugas kita yang paling penting daripada itu adalah melahirkan pendidikan kaderisasi yang di dalamnya terdapat jiwa kekatolikan itu sendiri,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut menempatkan pendidikan kaderisasi sebagai fondasi utama yang menentukan keberlanjutan dan kualitas gerakan PMKRI. Dalam kehidupan organisasi mahasiswa, keberhasilan seringkali diukur melalui jumlah kegiatan, intensitas pertemuan dengan pemangku kepentingan, serta luasnya jaringan yang berhasil dibangun. Namun, ukuran semacam itu menjadi tidak memadai apabila organisasi gagal menghasilkan kader yang memiliki kapasitas intelektual, integritas, dan kepedulian terhadap masyarakat. Kaderisasi karena itu tidak boleh dipahami sekadar sebagai rangkaian kegiatan formal yang diselenggarakan untuk memenuhi agenda kelembagaan. Proses tersebut harus menjadi ruang pendidikan yang membentuk karakter, menumbuhkan keberanian berpikir kritis, dan memperkuat tanggung jawab sosial.

Bagi PMKRI, nilai Kristianitas, Fraternitas, dan Intelektualitas menjadi pondasi penting untuk memastikan bahwa proses pembentukan kader tidak kehilangan orientasi moral dan intelektualnya. Kristianitas menegaskan pentingnya nilai kekatolikan dalam membangun kepemimpinan yang berlandaskan kasih, kebenaran, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Fraternitas menempatkan persaudaraan dan solidaritas sebagai dasar hubungan antaranggota. Sementara Intelektualitas menuntut pengembangan pengetahuan dan kemampuan berpikir secara kritis. Ketiga nilai tersebut harus hadir dalam kehidupan organisasi, bukan hanya menjadi identitas yang diucapkan dalam forum resmi.

Dalam perspektif ini, tanggung jawab PMKRI tidak berhenti pada kemampuan mengkritik kebijakan publik. Organisasi juga dituntut memastikan bahwa kader-kader yang dilahirkan memiliki karakter dan kompetensi untuk menawarkan gagasan, membangun alternatif kebijakan, dan menghadirkan perubahan sosial.

*Belajar dari Falsafah Siliwangi: Membumi, Visioner, dan Berani*

Untuk memperkuat pemahaman tentang kepemimpinan adaptif, Asta memperkenalkan pendekatan kepemimpinan yang bersumber dari kearifan lokal, salah satunya melalui falsafah Kepemimpinan Siliwangi. Pendekatan tersebut memuat tiga prinsip utama, yakni Jurus Nerus Bumi, Jurus Ngapak Mega, dan Jurus Napak Sancang. Melalui prinsip Nerus Bumi, seorang pemimpin diingatkan agar tidak kehilangan hubungan dengan kenyataan yang dihadapi masyarakat. Kepemimpinan harus memiliki kemampuan memahami persoalan dari dekat, bukan hanya menerima laporan dari struktur organisasi.

Prinsip itu dapat dirumuskan dalam pesan kepemimpinan berikut: “Pemimpin harus berani turun ke bawah, memahami keadaan yang sebenarnya, dan merasakan persoalan masyarakat. Jangan hanya menunggu laporan yang sudah tersusun rapi di atas meja.”

Sementara itu, Ngapak Mega mengajarkan pentingnya memiliki visi yang luas dan mampu melihat persoalan melampaui kepentingan jangka pendek. Kepemimpinan tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan yang muncul setiap hari, tetapi juga membutuhkan kemampuan merancang arah perubahan organisasi dalam jangka panjang. “Seorang pemimpin harus memiliki visi yang jauh ke depan. Jangan hanya berpikir bagaimana organisasi bisa bertahan hari ini, tetapi bagaimana organisasi dapat terus berkembang dan memberikan manfaat pada masa mendatang.”

Prinsip ketiga, Napak Sancang, menekankan keberanian dalam menghadapi tantangan dan mengambil keputusan yang sulit. Dalam praktik kepemimpinan, keberanian tersebut perlu disertai pertimbangan rasional dan kesediaan mempertanggungjawabkan konsekuensi setiap keputusan. “Keberanian pemimpin tidak hanya terlihat ketika ia berbicara di depan banyak orang, tetapi ketika ia harus mengambil keputusan yang sulit dan tetap mempertahankan kepentingan bersama.”

Ketiga prinsip tersebut menjadi kerangka untuk memahami kepemimpinan adaptif yang tidak tercerabut dari realitas sosial, memiliki orientasi masa depan, dan sanggup menghadapi tekanan perubahan. Selain itu, Asta turut memperkenalkan falsafah Sunda silih asih, silih asah, dan silih asuh sebagai nilai yang dapat memperkuat hubungan antarmanusia dalam organisasi. Konsep tersebut menekankan pentingnya saling mengasihi, saling mencerdaskan, serta saling membimbing agar setiap anggota memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

*Kearifan Karo sebagai Dasar Kepemimpinan Kolektif*

Tidak hanya melalui falsafah Sunda, Asta juga memperkenalkan prinsip-prinsip kepemimpinan masyarakat Karo yang relevan dengan kebutuhan organisasi modern. Empat nilai utama yang disampaikan meliputi Endi Enta, Runggu, Ngeripe, dan Aron. Prinsip Endi Enta mengajarkan pentingnya memberikan kontribusi sebelum menuntut hak atau keuntungan. Dalam organisasi, nilai tersebut menuntut setiap anggota memiliki inisiatif dan tidak hanya menunggu arahan pimpinan. “Dalam organisasi, jangan hanya berpikir tentang apa yang bisa kita dapatkan. Kita juga harus bertanya apa yang sudah kita berikan. Organisasi akan berkembang apabila setiap orang memiliki inisiatif untuk berkontribusi.”

Sementara itu, Runggu menempatkan musyawarah mufakat sebagai dasar komunikasi dan pengambilan keputusan. Melalui prinsip tersebut, kepemimpinan dipahami sebagai proses mempertemukan berbagai pandangan secara setara, bukan ruang untuk mempertontonkan dominasi satu individu. “Musyawarah bukan tentang siapa yang paling pintar, siapa yang paling kuat, atau siapa yang memiliki jabatan paling tinggi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menemukan keputusan yang terbaik untuk kepentingan bersama.”

Prinsip berikutnya, Ngeripe, menekankan pentingnya solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama. Dalam materi yang disampaikan, konsep tersebut berkaitan dengan kebiasaan saling membantu ketika terdapat anggota keluarga atau masyarakat yang menghadapi kesulitan. Nilai itu menjadi pengingat bahwa organisasi bukan hanya tempat menjalankan program, tetapi juga ruang untuk membangun hubungan kemanusiaan. “Kekuatan organisasi tidak hanya terletak pada struktur dan program kerjanya, tetapi juga pada kepedulian antaranggota. Ketika ada yang mengalami kesulitan, yang lain harus hadir untuk saling menguatkan.”

Adapun Aron menggambarkan semangat gotong royong dan kolaborasi dalam menyelesaikan pekerjaan. Prinsip tersebut menuntut setiap anggota mengambil bagian dalam tanggung jawab organisasi secara aktif dan proporsional. “Organisasi tidak akan berjalan apabila hanya satu atau dua orang yang bekerja, sementara yang lain sekadar menikmati hasilnya. Semua harus terlibat, saling mendukung, dan mengambil tanggung jawab.”

Keempat prinsip tersebut memiliki hubungan erat dengan karakter kepemimpinan kolektif-kolegial yang menjadi bagian penting dalam tata kelola PMKRI. Kepemimpinan kolektif tidak cukup dimaknai sebagai pembagian jabatan, tetapi harus diwujudkan melalui keterbukaan, pembagian kerja, solidaritas, dan tanggung jawab bersama.

*Transparansi sebagai Syarat Independensi Organisasi*

Selain membahas integritas dan kepemimpinan berbasis kearifan lokal, Asta juga menyoroti pentingnya transparansi dalam menjaga kepercayaan dan independensi organisasi. Dalam potongan pemaparannya, ia menekankan keterbukaan sebagai mekanisme yang harus dibangun di berbagai tingkatan kepengurusan.

“Caranya bagaimana? Transparansi. Sesederhana transparansi ketua presidium kepada anggota presidium, pengurus kepada ketua lembaga,” ujarnya.

Gagasan tersebut menjadi penting karena organisasi yang menjalankan fungsi pengawasan kebijakan publik harus terlebih dahulu membangun tata kelola internal yang dapat dipertanggungjawabkan. Kritik terhadap praktik kekuasaan yang tertutup akan kehilangan kekuatan moral apabila organisasi sendiri tidak mampu menghadirkan keterbukaan dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan sumber daya.

Transparansi karena itu perlu ditempatkan sebagai bagian dari integritas kelembagaan, bukan sekadar urusan teknis administrasi. “Kalau kita ingin organisasi dipandang independen oleh pihak luar, maka transparansi harus dibangun dari dalam. Keterbukaan antar pengurus merupakan dasar untuk menjaga kepercayaan dan tanggung jawab bersama.”

Independensi organisasi juga tidak cukup dibuktikan melalui pernyataan sikap kritis terhadap pemerintah. Independensi harus diwujudkan melalui konsistensi prinsip, keberanian menjaga jarak dari kepentingan pragmatis, serta kesediaan mempertanggungjawabkan setiap keputusan. Dalam konteks PMKRI, hal tersebut menjadi tantangan penting agar organisasi tetap mampu menjalankan fungsi kaderisasi dan perjuangan tanpa kehilangan arah perjuangannya.

*Kepemimpinan Adaptif Harus Memiliki Keberanian Memperbaiki Kesalahan*

Dalam menghadapi perubahan, Asta turut menekankan pentingnya kemampuan mengidentifikasi persoalan dan memperbaiki kesalahan berdasarkan pengetahuan serta pertimbangan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam salah satu bagian pemaparannya, ia menyinggung pentingnya mengetahui apa yang sudah berjalan dengan baik dan apa yang masih harus diperbaiki. Pesan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu membutuhkan perubahan menyeluruh tanpa terlebih dahulu memahami akar persoalan.

Kepemimpinan yang efektif justru memerlukan kemampuan mengevaluasi keadaan secara objektif, menentukan prioritas, dan menyusun langkah perbaikan. “Kalau dari sepuluh hal yang sudah dilakukan ternyata ada dua yang salah, maka yang harus kita lakukan adalah memperbaiki dua kesalahan tersebut. Kita harus mengetahui mana yang salah dan berani memperbaikinya.”

Pandangan tersebut relevan dengan kebutuhan organisasi kader yang sering menghadapi tantangan koordinasi, pembagian tanggung jawab, dan kesinambungan program antar kepengurusan. Evaluasi tidak semestinya menjadi ruang untuk saling menyalahkan, tetapi harus dimanfaatkan sebagai proses pembelajaran bersama. Kepemimpinan adaptif juga menuntut kemampuan membedakan prinsip yang harus dipertahankan dengan strategi yang perlu disesuaikan. Di tengah perubahan politik dan sosial, organisasi tidak boleh menjadi kaku dalam pendekatan, tetapi juga tidak boleh kehilangan identitas hanya demi mengikuti perkembangan keadaan.

*POF sebagai Momentum Pembaruan Kepemimpinan PMKRI*

Pelaksanaan Pekan Orientasi Fungsionaris PP PMKRI Periode 2026-2028 menjadi momentum strategis untuk membangun kesamaan pemahaman tentang arah kepemimpinan organisasi. Kegiatan ini bukan sekadar forum pembekalan administratif bagi pengurus baru, tetapi juga ruang refleksi mengenai tanggung jawab moral, kualitas kaderisasi, dan relevansi PMKRI di tengah perubahan masyarakat.

Melalui materi kepemimpinan adaptif, para fungsionaris diajak memahami bahwa keberhasilan kepengurusan tidak cukup diukur berdasarkan jumlah program yang diselenggarakan atau luasnya jaringan yang dibangun. Ukuran keberhasilan juga harus mencakup kualitas kader yang dihasilkan, kemampuan organisasi menjaga integritas, serta kontribusinya terhadap kepentingan masyarakat dan bangsa.

Dalam konteks itu, PMKRI membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya responsif menghadapi perubahan, tetapi juga memiliki keteguhan nilai. Organisasi harus mampu menjadi ruang pembelajaran yang mengembangkan kecerdasan, kepekaan sosial, keberanian moral, dan kemampuan bekerja sama. Pendidikan kaderisasi menjadi sangat penting karena dari proses itulah organisasi menyiapkan generasi pemimpin yang kelak menjalankan tanggung jawab di berbagai bidang kehidupan masyarakat.

Regenerasi kepemimpinan tidak boleh berhenti pada pergantian kepengurusan. Regenerasi harus menghadirkan peningkatan kualitas manusia, pembaruan gagasan, dan kesinambungan nilai perjuangan. Menutup pesannya kepada para fungsionaris, Asta menyampaikan dorongan agar mereka terus mengembangkan kapasitas diri dan mempertahankan semangat perjuangan.

“Pesan saya ada tiga: tetap berjuang, tetap berkembang, dan jangan menyerah,” pesannya. Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kepemimpinan merupakan proses pembelajaran yang berlangsung terus-menerus dan menuntut ketekunan menghadapi setiap tantangan.

Bagi PP PMKRI, tantangan kepengurusan periode 2026–2028 bukan sekadar memastikan organisasi berjalan secara struktural, tetapi juga menjadikannya sebagai ruang pendidikan yang mampu menghasilkan kader berintegritas, memiliki kedalaman intelektual, dan menghidupi nilai-nilai kekatolikan dalam tindakan nyata. Kehadiran pemimpin yang cerdas tentu dibutuhkan. Namun, kecerdasan tanpa integritas berpotensi kehilangan orientasi dan bahkan menjauhkan kepemimpinan dari kepentingan masyarakat. Sebaliknya, ketika kemampuan intelektual dipadukan dengan keteguhan moral, solidaritas, dan keberanian mengambil tanggung jawab, kepemimpinan dapat menjadi kekuatan yang menghadirkan perubahan.

“Pada akhirnya, Indonesia bukan hanya membutuhkan orang-orang pintar yang mampu membaca arah perubahan, tetapi pemimpin berintegritas yang berani memastikan perubahan tersebut bergerak menuju keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan bersama.” ucap Asta

Facebook Comments Box
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *