banner 728x250

Snowball Business Model untuk Koperasi Desa Merah Putih: Dari Modal Menjadi Ekonomi yang Berputar

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Prof. Dr. Nandan Limakrisna Penggagas Snowball Business Model (SBM) Pemerintah Sudah Membangun Fondasinya. Sekarang, Bagaimana Membuatnya Bergerak?

Indonesia sedang berada pada sebuah momentum penting dalam membangun ekonomi dari desa.
Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) merupakan agenda strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Negara telah menyiapkan kebijakan, kelembagaan, pembiayaan, fasilitas dan berbagai instrumen pendukung.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi:
“Bagaimana membangun koperasi?”
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
“Bagaimana memastikan koperasi yang telah dibangun benar-benar hidup dan menghasilkan manfaat ekonomi bagi masyarakat?”
Inilah titik yang menurut saya harus menjadi perhatian bersama.
Sebab sebuah koperasi dapat memiliki gedung yang bagus, gudang, kendaraan, toko, modal kerja dan fasilitas usaha.
Tetapi semua itu belum menjamin koperasi menghasilkan pertumbuhan ekonomi.
Koperasi baru benar-benar hidup ketika terjadi transaksi.
Dan transaksi baru akan terus terjadi ketika anggota menjadikan koperasi sebagai bagian dari kehidupan ekonominya.
Karena itu, tantangan terbesar KDKMP ke depan bukan semata-mata membangun koperasi sebanyak-banyaknya, tetapi menghidupkan aktivitas ekonomi di dalam koperasi tersebut.
Jangan Sampai Investasi Besar Negara Hanya Menghasilkan Aset
Ini bukan kekhawatiran terhadap program pemerintah.
Justru sebaliknya.
Karena KDKMP merupakan program strategis dengan dukungan negara yang besar, maka keberhasilannya harus dijaga sejak awal.
Modal pemerintah harus menghasilkan perputaran ekonomi.
Fasilitas harus menghasilkan aktivitas usaha.
Koperasi harus menghasilkan transaksi.
Transaksi harus menghasilkan cash flow.
Cash flow harus menghasilkan nilai tambah.
Dan pada akhirnya, seluruh proses itu harus bermuara pada satu ukuran paling penting:
Apakah pendapatan dan kesejahteraan anggota meningkat?
Naskah dasar SBM menegaskan bahwa modal hanyalah fuel, bukan mesin. Mesin membutuhkan model bisnis, pasar, manusia, tata kelola dan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.
Inilah mengapa kita membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berbicara tentang modal masuk, tetapi juga tentang bagaimana modal berputar.
Saya Menawarkan Sebuah Model: Snowball Business Model
Saya menawarkan Snowball Business Model (SBM) bukan sebagai pengganti kebijakan pemerintah.
Bukan pula sebagai satu-satunya model yang harus digunakan.
SBM saya tawarkan sebagai sebuah alternatif yang dapat diuji secara terbatas, terukur dan berbasis data.
Gagasannya sederhana.
Jadikan anggota sebagai pusat mesin ekonomi koperasi.
Setiap anggota memainkan tiga peran sekaligus:
PRODUSEN + KONSUMEN + PROMOTOR
Sebagai produsen, anggota menghasilkan produk yang dapat diserap, diagregasi dan dipasarkan melalui koperasi.
Sebagai konsumen, anggota memenuhi kebutuhan ekonominya melalui koperasi.
Sebagai promotor, anggota ikut memperluas jaringan anggota dan pasar koperasi.
Ketika ketiganya berjalan, terciptalah siklus ekonomi:
PRODUKSI → KOPERASI → TRANSAKSI → CASH FLOW → NILAI TAMBAH → ANGGOTA → PASAR → PRODUKSI LEBIH BESAR → TRANSAKSI LEBIH BESAR.
Kemudian siklus itu berulang.
Itulah efek bola salju.
Bukan tumbuh karena sekali didorong.
Tetapi tumbuh karena terus bergerak.
Yang Dibutuhkan Bukan Hanya Modal, tetapi Perputaran
Pemerintah dapat menyediakan modal awal.
Tetapi tidak mungkin pemerintah terus-menerus menjadi sumber kehidupan koperasi.
Koperasi harus memiliki kemampuan untuk menghidupi dirinya sendiri melalui aktivitas ekonomi anggotanya.
Di sinilah SBM mencoba menjawab persoalan tersebut.
Petani memasok.
Koperasi menyerap.
Masyarakat membeli.
Uang berputar.
Produk kembali diproduksi.
Pasar bertambah.
Transaksi meningkat.
Modal kembali berputar.
Kemudian skala usaha membesar.
Dengan kata lain:
Semakin banyak anggota bertransaksi, semakin besar peluang koperasi tumbuh.
Dan semakin besar koperasi tumbuh, semakin besar pula peluang nilai tambah ekonomi tetap berada di desa.
Konsep dasar tersebut telah dirumuskan dalam SBM melalui hubungan antara anggota, transaksi, nilai tambah, modal, produksi dan pasar.
Pemerintah Tidak Perlu Langsung Menerapkan di Semua Desa
Justru saya mengusulkan sesuatu yang lebih sederhana.
Uji dahulu. Ukur. Bandingkan. Perbaiki. Kemudian diperluas.
Pemerintah dapat memilih beberapa KDKMP sebagai pilot project SBM dengan karakteristik wilayah yang berbeda.
Misalnya wilayah pertanian, perikanan, peternakan, UMKM dan karakter ekonomi lainnya.
Pelaksanaan dapat diuji selama 6–12 bulan, kemudian dibandingkan dengan koperasi yang menggunakan pola pengelolaan konvensional.
Yang diukur bukan sekadar jumlah kegiatan.
Tetapi hasil ekonominya.
Antara lain:
• pertumbuhan anggota aktif;
• volume transaksi;
• penyerapan produk anggota;
• pembelian anggota melalui koperasi;
• pertumbuhan omzet;
• perputaran modal;
• pertumbuhan pendapatan anggota;
• dan tingkat kepercayaan anggota.
Parameter tersebut memang telah menjadi bagian dari gagasan pilot SBM dalam naskah awal.
Jika hasilnya tidak lebih baik, hentikan atau perbaiki.
Jika hasilnya terbukti lebih baik, kembangkan.
Jika berhasil di satu wilayah, replikasi ke wilayah lain.
Dengan pendekatan ini, pemerintah tidak harus mengambil keputusan berdasarkan keyakinan semata.
Biarkan data yang membuktikan.

banner 325x300

Ini Bukan Sekadar Model Bisnis. Ini Bisa Menjadi Instrumen Evaluasi Kebijakan
Saya melihat SBM bukan hanya sebagai model untuk mengelola koperasi.
Lebih jauh, SBM dapat menjadi alat untuk menguji apakah investasi negara benar-benar menghasilkan aktivitas ekonomi di tingkat masyarakat.
Karena itu, pemerintah dapat melihat koperasi bukan hanya dari:
berapa yang dibangun,
tetapi dari:
berapa yang aktif;
bukan hanya:
berapa modal yang disalurkan,
tetapi:
berapa kali modal berputar;
bukan hanya:
berapa aset yang dimiliki,
tetapi:
berapa nilai ekonomi yang dihasilkan;
dan bukan hanya:
berapa anggota yang tercatat,
tetapi:
berapa anggota yang mengalami peningkatan pendapatan.
Inilah perubahan cara pandang yang menurut saya penting.
Dari Program Pemerintah Menjadi Gerakan Ekonomi Rakyat
KDKMP memiliki peluang untuk menjadi lebih dari sekadar program koperasi.
Ia dapat menjadi infrastruktur ekonomi rakyat di tingkat desa.
Tetapi untuk mencapai itu, koperasi harus menjadi bagian dari aktivitas ekonomi sehari-hari masyarakat.
Petani tidak hanya menjadi anggota.
Ia menjadi pemasok.
Nelayan tidak hanya memiliki kartu anggota.
Ia memiliki pasar.
Pelaku UMKM tidak hanya tercatat dalam database koperasi.
Produknya harus memiliki saluran distribusi.
Masyarakat tidak hanya menjadi anggota secara administratif.
Mereka harus menjadi konsumen.
Dan seluruh anggota tidak hanya memiliki hak suara.
Mereka juga menjadi bagian dari pertumbuhan pasar koperasinya.
Di situlah koperasi berubah dari lembaga administratif menjadi mesin ekonomi.
Sebuah Tawaran kepada Pemerintah Indonesia
Karena itu, melalui gagasan ini saya menyampaikan sebuah tawaran yang sederhana:
Berikan ruang untuk menguji Snowball Business Model.
Tidak perlu langsung dalam skala nasional.
Tidak perlu mengambil risiko besar.
Pilih beberapa KDKMP.
Berikan waktu 6–12 bulan.
Tetapkan indikator keberhasilan.
Lakukan pendampingan.
Ukur hasilnya.
Bandingkan dengan model lain.
Kemudian biarkan data menentukan apakah SBM layak diperluas.
Saya siap memberikan gagasan, desain model, pendampingan dan pelaksanaan pilot project apabila pemerintah memberikan ruang untuk mengujinya.
Bagi saya, ini bukan sekadar tawaran untuk terlibat dalam sebuah program.
Ini adalah tawaran untuk menguji sebuah gagasan ekonomi kerakyatan di lapangan.
Karena Keberhasilan Koperasi Harus Terlihat di Kantong Anggota
Pada akhirnya, keberhasilan Koperasi Merah Putih tidak boleh hanya terlihat dalam laporan administratif.
Keberhasilan harus terlihat dalam kehidupan masyarakat.
Terlihat ketika petani memperoleh pasar yang lebih baik.
Terlihat ketika produk desa memiliki nilai tambah.
Terlihat ketika masyarakat mendapatkan kebutuhan dengan harga dan layanan yang lebih baik.
Terlihat ketika omzet koperasi meningkat.
Terlihat ketika modal berputar.
Dan yang paling penting:
terlihat ketika pendapatan anggota meningkat.
Sebab rakyat tidak membutuhkan koperasi hanya untuk disebut memiliki koperasi.
Rakyat membutuhkan koperasi yang memberikan manfaat nyata.
Dari Satu Anggota, Satu Desa, hingga Indonesia
Bayangkan sebuah koperasi dimulai dari satu anggota yang bertransaksi.
Kemudian transaksi itu menghasilkan cash flow.
Cash flow membeli produk anggota lain.
Produk anggota masuk koperasi.
Masyarakat membeli.
Pasar bertambah.
Produksi meningkat.
Anggota bertambah.
Transaksi semakin besar.
Koperasi semakin kuat.
Kemudian model yang sama berjalan di desa lain.
Lalu di ribuan desa.
Pada titik itulah efek bola salju mulai bekerja.
Satu anggota menggerakkan satu koperasi.
Satu koperasi menggerakkan satu desa.
Satu desa menggerakkan desa lainnya.
Dan ribuan desa yang bergerak bersama dapat menciptakan sesuatu yang jauh lebih besar:
mesin ekonomi kerakyatan Indonesia.
Karena itu, Koperasi Merah Putih jangan hanya menjadi koperasi yang didirikan di desa.
Koperasi Merah Putih harus menjadi ekonomi desa yang hidup.
Dan jika pemerintah ingin memastikan bahwa modal negara benar-benar berubah menjadi kekuatan ekonomi rakyat, maka pertanyaan yang harus kita jawab bukan lagi:
“Berapa banyak koperasi yang sudah kita bangun?”
Tetapi:
“Berapa banyak kehidupan ekonomi rakyat yang berhasil kita gerakkan melalui koperasi?”
Pertanyaan itulah yang layak kita jawab bersama.
Dan Snowball Business Model menawarkan sebuah cara untuk mengujinya.
________________________________________
*) Prof. Dr. Nandan Limakrisna adalah Guru Besar Ilmu Manajemen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI YAI) yang menaruh perhatian pada kajian strategi bisnis, pemasaran, serta pengembangan ekonomi berbasis komunitas. Ia aktif menulis dan memberikan pemikiran mengenai pemberdayaan UMKM, model bisnis kolaboratif, dan penguatan ekonomi rakyat. Melalui berbagai tulisan dan forum akademik, ia juga memperkenalkan konsep Snowball Business Model (SBM) sebagai pendekatan pengembangan ekosistem ekonomi komunitas. Pemikirannya banyak menyoroti pentingnya sinergi antara industrialisasi nasional dan ekonomi rakyat dalam pembangunan ekonomi Indonesia.

Facebook Comments Box
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *