**Oleh: Alam Massiri**
Masuknya Rocky Gerung ke dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membuka satu pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar soal jabatan: **apakah seorang intelektual dan aktivis tetap dapat mempertahankan suara kritisnya ketika berada di dalam lingkar kekuasaan?**
Pertanyaan itu wajar muncul karena Rocky selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu suara yang lantang mengkritik kebijakan pemerintah dan perilaku kekuasaan.
Kini, posisi itu berubah.
Pada 2 Oktober 2026, Rocky Gerung dilantik sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Perubahan posisi tersebut menarik karena selama ini Rocky lebih sering berada di luar kekuasaan, memberikan kritik dan analisis terhadap berbagai kebijakan pemerintah.
Rocky sendiri mengatakan bahwa dirinya hanya berpindah posisi, dari luar ke dalam. Ia juga menyatakan bahwa tugasnya di Wantimpres adalah memberikan pertimbangan kepada Presiden dan tetap menjalankan fungsi kritis terhadap kebijakan.
Pernyataan tersebut penting dicatat.
Sebab, Rocky tidak sedang memasuki ruang yang netral. Ia masuk ke sebuah institusi yang berada dekat dengan pusat pengambilan keputusan negara.
Di sinilah perjalanan intelektualnya memasuki babak baru.
## Aktivis dan Kekuasaan
Sejarah politik Indonesia memperlihatkan bahwa hubungan antara aktivisme dan kekuasaan selalu kompleks.
Banyak aktivis yang pada masa lalu berada di jalan, kampus, organisasi masyarakat sipil, maupun gerakan demokrasi, kemudian memilih masuk ke institusi negara.
Pilihan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang harus dipersoalkan.
Justru sebaliknya, pengalaman aktivisme dapat menjadi modal penting ketika seseorang masuk ke pemerintahan. Nilai-nilai yang dahulu diperjuangkan di luar kekuasaan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan ketika seseorang memperoleh kesempatan bekerja dari dalam.
Namun, persoalannya muncul ketika terjadi perubahan posisi.
Seorang aktivis di luar pemerintahan memiliki ruang yang relatif lebih luas untuk mengkritik. Ia tidak terikat pada tanggung jawab birokrasi dan keputusan institusi.
Ketika masuk pemerintahan, situasinya berbeda.
Ada tanggung jawab jabatan, etika kelembagaan, mekanisme pengambilan keputusan, dan batas-batas tertentu yang tidak selalu memungkinkan seluruh perbedaan pendapat disampaikan kepada publik.
Karena itu, masuknya aktivis ke pemerintahan tidak otomatis berarti kehilangan sikap kritis.
Tetapi juga tidak otomatis menjamin sikap kritis tersebut tetap sama.
Di sinilah publik mempunyai alasan untuk mengamati.
## Dari Suara Jalanan ke Meja Kekuasaan
Beberapa aktivis yang memiliki sejarah panjang dalam gerakan demokrasi Indonesia kemudian memilih jalur politik dan pemerintahan.
Budiman Sudjatmiko, misalnya, dikenal sebagai salah satu aktivis 1998 yang kemudian memasuki politik praktis dan memperoleh posisi dalam pemerintahan.
Mugiyanto juga mempunyai latar belakang aktivisme hak asasi manusia dan kemudian masuk ke pemerintahan sebagai Wakil Menteri Hak Asasi Manusia.
Kisah semacam ini memperlihatkan bahwa perjalanan aktivis tidak selalu berakhir di luar kekuasaan.
Ada yang memilih masuk dan mencoba bekerja dari dalam.
Namun, perubahan arena tersebut selalu melahirkan pertanyaan mengenai konsistensi.
Apakah gagasan yang dahulu diperjuangkan tetap menjadi pedoman?
Apakah kritik masih disampaikan ketika kebijakan yang dikritik berasal dari lingkungan kekuasaan sendiri?
Atau bahasa kritik perlahan berubah menjadi bahasa kompromi?
Pertanyaan itu tidak dapat dijawab hanya dengan melihat jabatan seseorang.
Ia harus dilihat dari rekam jejak pernyataan dan tindakannya.
## Rocky Tidak Bisa Dinilai Hanya dari Masa Lalunya
Pada titik ini Rocky Gerung mempunyai posisi yang menarik.
Rekam jejaknya sebagai pengkritik pemerintah sudah diketahui publik. Tetapi rekam jejak tersebut tidak dengan sendirinya menjadi bukti bahwa ia akan tetap kritis setelah menjadi Wantimpres.
Demikian pula, masuknya Rocky ke pemerintahan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ia telah meninggalkan sikap kritisnya.
Kedua kesimpulan tersebut terlalu dini.
Rocky baru memasuki babak baru.
Karena itu, yang lebih penting bukan menilai Rocky berdasarkan masa lalunya, tetapi melihat bagaimana ia menjalankan fungsi barunya.
Ia telah mengatakan bahwa dirinya berpindah dari luar ke dalam.
Maka publik memiliki alasan untuk menunggu: apa yang akan dilakukan Rocky setelah berada di dalam?
Sebab kritik yang disampaikan dari luar kekuasaan dan pertimbangan yang disampaikan kepada seorang presiden mempunyai konteks yang berbeda.
## Ketika Kritik Tidak Lagi Berada di Depan Kamera
Ada persoalan lain yang sering luput dalam perdebatan tentang aktivis yang masuk pemerintahan.
Tidak semua kritik harus disampaikan di ruang publik.
Seorang anggota Wantimpres bisa saja menyampaikan pertimbangan yang sangat kritis kepada Presiden dalam ruang tertutup.
Publik tentu tidak selalu dapat mengetahui apa yang terjadi dalam ruang tersebut.
Karena itu, berkurangnya pernyataan kritis di media tidak otomatis dapat diartikan sebagai hilangnya sikap kritis.
Namun, persoalan tersebut juga mempunyai sisi lain.
Dalam negara demokrasi, masyarakat tetap membutuhkan transparansi dan akuntabilitas.
Ketika seorang tokoh dikenal luas karena keberanian menyampaikan kritik kepada pemerintah, publik tentu akan memperhatikan apakah keberanian tersebut masih terlihat setelah tokoh itu memperoleh jabatan.
Di sinilah Rocky akan diuji.
Bukan sekadar oleh Presiden.
Tetapi oleh publik.
## Jangan Sampai Jabatan Mengubah Nilai
Menjadi bagian dari pemerintahan bukanlah dosa bagi seorang aktivis.
Bahkan, dalam demokrasi, perpindahan dari masyarakat sipil menuju institusi negara dapat menjadi jalan untuk mengubah gagasan menjadi kebijakan.
Tetapi ada satu hal yang harus tetap dijaga: **independensi berpikir.**
Seorang aktivis yang masuk pemerintahan tidak harus selalu menentang pemerintah.
Begitu pula, seorang anggota Wantimpres tidak harus selalu menyetujui pemerintah.
Fungsi seorang penasihat justru terletak pada kemampuannya memberikan pertimbangan, termasuk ketika pertimbangan itu tidak selalu menyenangkan pihak yang menerima nasihat.
Presiden tidak membutuhkan orang yang hanya mengatakan bahwa semua kebijakan sudah benar.
Presiden membutuhkan orang yang mampu melihat kemungkinan kesalahan sebelum kesalahan tersebut menjadi persoalan yang lebih besar.
Di sinilah keberadaan Rocky menjadi menarik.
Selama berada di luar kekuasaan, ia mempunyai kebebasan untuk mengkritik.
Sekarang ia memperoleh akses untuk memberikan pertimbangan secara langsung kepada pusat kekuasaan.
Kedua posisi tersebut mempunyai kelebihan sekaligus risiko.
## Ujian Rocky Baru Dimulai
Karena itu, terlalu cepat jika Rocky dipuji sebagai aktivis yang berhasil mempertahankan independensinya.
Tetapi juga terlalu cepat jika ia dituduh telah kehilangan sikap kritis hanya karena menerima posisi di Wantimpres.
Keduanya membutuhkan pembuktian.
Waktu akan menjadi alat ukur.
Publik akan melihat bagaimana Rocky merespons kebijakan pemerintah yang kontroversial.
Publik akan melihat apakah ia masih mempertanyakan kebijakan yang menurutnya bermasalah.
Publik juga akan melihat apakah pemikiran yang selama ini disampaikan secara terbuka tetap mempunyai tempat ketika ia berada di ruang pengambilan keputusan.
Pada akhirnya, jabatan bukan ukuran independensi seseorang.
**Sikap ketika berhadapan dengan kekuasaanlah yang akan menentukan.**
## Aktivis Boleh Masuk Istana
Demokrasi tidak membutuhkan aktivis yang selamanya berada di luar pemerintahan.
Demokrasi juga tidak membutuhkan pejabat yang selalu membenarkan pemerintah.
Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang mampu membawa nilai, pengalaman, dan keberanian berpikir ke dalam institusi negara.
Rocky Gerung kini berada di titik tersebut.
Ia telah berpindah dari luar ke dalam, sebagaimana pengakuannya sendiri.
Tetapi perpindahan posisi tidak harus berarti perpindahan prinsip.
Justru di sinilah tantangannya.
Jika dahulu Rocky dikenal karena keberaniannya mempertanyakan kekuasaan, maka kini publik akan menunggu apakah keberanian itu tetap hidup ketika ia memperoleh akses langsung kepada kekuasaan.
Sebab seorang aktivis boleh masuk istana.
Seorang intelektual boleh duduk di meja kekuasaan.
Tetapi jangan sampai **kursi membuat suara yang dahulu lantang berubah menjadi kesunyian.**
Dan untuk Rocky Gerung, ujian itu baru saja dimulai.
—
### Tentang Penulis
**Alam Massiri, S.Ag., M.Si.** adalah jurnalis dan penulis yang aktif dalam kerja jurnalistik dan pengembangan media siber. Ia merupakan **Direktur Utama PT Detik Djakarta Multimedia** dan terlibat dalam pengelolaan sejumlah media online. Selain menjalankan aktivitas jurnalistik, ia aktif dalam kegiatan organisasi dan pengembangan profesionalisme pers serta menulis isu-isu sosial, hukum, demokrasi, dan kehidupan kebangsaan.


















